Disebuah desa ada sebuah keluarga yang terdiri ayah, ibu, kakak
dani, dan adik rere. Mereka hidup sederhana dan apa adanya. Ayahnya bekerja
sebagai tukang kebun di smp dekat
rumahnya, sedangkan ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sejak ayah
dan ibu menikah, ayah sudah mulai sakit-sakitan. Jadi ayah tak dapat bekerja
berat. Ibu lah yang harus membanting tulang untuk bisa mencukupi kehidupan
keluarga ini.
Beberapa tahun
kemudian ketika dani dan rere sudah menginjak pendidikan sekolah dasar. Ayah dan
ibu berhenti bekerja, mereka memiliki niatan untuk buka usaha kecil-kecilan. Awalnya
hanya berdagang jajan dan es saja namum lamat laun mereka menambah daganganya
sedikit demi sedikit dengan seadanya modal yang ia miliki. Selang beberapa
bulan usaha dagang mereka bertambah dan mulai maju, tidak hanya jajan dan es
saja yang dijual namun mereka menjual sembako dan sayuran. Usaha yang dirintis
oleh mereka cukup laris dan dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.
Ketika kakak dani
lulus dari sma dan rere kelas 3 smp, sekitar jam 3 pagi dini hari ibu bangun
dan berteriak meminta tolong dani dan rere pun terbangun dari tidurnya dan
segera menuju ibu. Ternyata ayah jatuh sakit dan tak bisa apa-apa. Kemudian ayah
dibawa kerumah sakit. Ketika ayah jatuh sakit, bertepatan dengan dani mengikuti
tes kesehatan untuk masuk perguruan tinggi, akhirnya dani pun tak mengikuti tes
tersebut dan memilih untuk mengurus ayah.
Ibu, dani, dan rere bingung bagaimana untuk membiayai berobat
ayahnya dirumah sakit. Ayahnya didiagnosa terkena penyakit stroke. Ketika itu
reni sedang duduk sendiri menunggu ayah ada dokter yang masuk, dokter bertanya “dek, ibu kemana?. Ibu pun
lama perginya dan akhirnya dokter berkata “de, ayahmu ini kemungkinan untuk
hidup sangat sedikit, sudah ada darah yang menggupal diotaknya dan jika pecah
ayah akan meninggal”. Reni sangat takut dan hanya bisa menangis ketika dokter
berkata seperti itu. Kemudian reni menceritakan kepada ibu dan kakaknya. Ibu,
dani dan reni hanya bisa berdoa, mereka sangat sedih sekali.
Selang beberapa
hari ayah dibawa pulang, yaa walaupun belum ada perubahan tetapi jika terlalu
lama dirumah sakit akan memakan biaya yang banyak dan mereka tak punya biaya. Ayah
dirawat dirumah oleh seorang ahli saraf yang menyembuhkan dengan cara
alternatif dan tidak memakan biaya banyak. Selama seminggu belum juga ada
perubahan dan yang dikeluhkan ayah hanya sakit dikepala. Selang beberapa minggu
mulai ada perubahan dan keadaanya semakin membaik. Ayah tak dapat berjalan dan
memakai kursi roda selama sakit kurang lebih 4 tahunan.
Setelah lulus sma
menganggur 3 tahun hanya untuk membantu berdagang dan merawat ayah dirumah.
Setelah 3 tahun menganggur akhirnya dani mendapat pekerjaan di bank btn. Dan belum
lama dani bekerja dan ketika reni kelas 3 smk
ayah kembali jatuh sakit dan strokenya kambuh lagi. Ketika itu malem
orang haji pada pulang menunaikan ibadah haji. Ibu pergi berkunjung ketempat
orang yang baru menunaikan haji. Sedangkan rere berpamitan ke ayah untuk main
kerumah temen bekerja kelompok, nah ayah mengijinkan tetapi rere disuruh duduk
disamping ayah. Ayah berfikir rere sudah kelas 3 smk sebentar lagi kan lulus,
nah rere setelah lulus daftar polisi ya kalau tidak ya daftar kuliah biar bisa
jadi pendidik atau guru. Baru ayah berbicaara seperti itu rere langsung
buru-buru pergi.
Ketika jam
menunjukan pukul 3 pagi dini hari, ibu yang tidur dengan ayah terbangun karena
ayah berteriak minta tolong. Ketika ibu bangun ayah sudah dilantai dan tak bisa
apa-apa. Ibu memanggil rere, rere pun terbangun dan sangat kaget tau itu. Kemudian
rere menelfon saudara untuk menyiapkan mobil untuk kerumah sakit. Setelah 2
hari dirumah sakit akhirnya ayah meninggal dunia. Betapa sedih kami ditinggal
ayah, tak menyangka akan secepat itu ayah meninggalkan kami. Rere tak mnyangka
percakapan dimalam itu akan menjadi percakapan terakhir dengan ayah.
Setelah lulus smk
rere berkuliah di universitas negeri semarang jurusan teknologi pendidikan.
Betapa hebat doa seorang ayah untuk anaknya. Rere akan berjuang agar ayah
bahagia disurga sana. Selama hidupnya ayah selalu tegar dan sabar untuk melawan
sakitnya. Hampir setiap minggu selama ayah menderita sakit stroke ayah selalu
berobat dan berikhtiar agar dapat sembuh namun takdir berkata lain dan ayah
meninggalkan kami selamanya. Rere merindukan ayah.
Sekian J
No comments:
Post a Comment